JADI ceritanya, hari ini seharian gw ngeberesin kamar yang sudah amat sangat berantakan, lebih berantakan dari muke muke lu yang lagi pada melototin ini blog gw... dan pas lagi bersih - bersih, men-sortir file - file yang isinya kertas - kertas gak penting dan lain lain, gw menemukan sebuah kertas jaman baheula yang ternyata adalah tugas Bahasa Indonesia gw dulu. Judulnya "The Journey of Ishak Daulay". Hmmm, baru inget ternyata gw dulu pernah nulis tentang bokap gw buat tugas Bahasa Indonesia. Dan setelah gw baca isinya, gw baru sadar kalo gaya menulis gw masih payah banget ternyata. Hahahaha... Cekidot lah

THE JOURNEY OF ISHAK DAULAY
Ayah saya, H. M. Ishak Daulay SH. MM Lahir di Sosa, 27 Agustus 1955. Anak kedua dari 7 bersaudara. Masa keclinya dihabiskan di tanah kelahirannya di Sosa, Sumatra Utara. Ayah dan ibunya bekerja sebagai penjual kain di pasar. Kakek adalah orang yang keras (sama seperti ayah !) dan itulah sebabnya, ayah dulu sering bertengkar dengan kakek.
Beliau sangat hobi berenang. Hampir seluruh sungai di Sosa sudah pernah "dijelajahinya". Dan itu menurun ke saya. Sewaktu kecil, saya juga hobi berenang sampai kulit saya hitam legam. Ayah juga hobi terjun bebas. Sewaktu di Sosa dulu, dia sering memanjat jembatan dan terjun bebas dari atas. Karena sungainya masih dalam, maka menurut ayah itu tidak berbahaya. Malah mengasyikkan. Untungnya, hobinya ayah yang satu itu tidak menurun ke saya !
Sewaktu SMP, beliau sangat nakal. Sering berkelahi dan bolos. Namun, walaupun nakal dan sering bolos, beliau termasuk pintar di kelasnya, apalagi dalam pelajaran Bahasa Inggris. beliau tidak seperti saya. Ia sangat percaya diri ketika berbicara Bahasa Inggris dengan orang - orang, bahkan ketika dia masih SMP dan kosakatanya masih amburadul. Hebat !
Memasuki Sekolah Menengah Atas, sifat ayah yang nakal dan sering bolos sudah ditinggalkannya. Ayah berubah menjadi orang yang pandai bergaul. Teman - temannya bukan hanya orang - orang di sekolah, tetapi juga tukang becak, tukang kain, anak pejabat, guru dan bahkan kepala sekolah. Menjalin persahabatan dengan guru di sekolah dan juga kepala sekolah membawa manfaat untuk ayah. Ayah sering lolos dari hukuman padahal ia sering terlambat. Kalau zaman sekarang masih bisa tidak ya ?
Bukan hanya itu, ketika siswa lain belajar mati - matian untuk bisa masuk ke jurusan yang diinginkannya, ayah saya malah bisa memilih dan masuk ke jurusan yang diinginkannya dengan mudah. Dan itu berkat dia akrab dengan kepala sekolah. Suatu hari, kepala sekolah bertanya kepadanya "Is, nanti mau masuk jurusan apa ? biar bapak urus" Ayah saya berfikir sejenak. Ia teringat, teman - temannya banyak yang ingin masuk IPA. "Pak, saya ingin masuk IPA !" Jawabnya mantap. Itulah kenapa, ketika saya dinyatakan masuk IPA, ayah saya bertanya "Kamu serius Fit ? tidak karena ikut - ikutan kan" dalam hati saya menjawab "Emangnya ayah !"Maka jadilah Ishak Daulay sebagai siswa IPA. Ya, lebih tepatnya "IPA IPAan"... Karena hanya ikut ikutan, tentu saja nilai - nilai ayah saya rata - rata dibawah standar, karena sebenarnya beliau kurang minat terhadap pelajaran IPA. Tapi untungnya ayah selalu naik kelas dan lulus.
Lulus SMA, ayah ikut test sebagai mahasiswa kedokteran (ketika menceritakan ini, ayah saya berkata sambil tertawa "Ayahmu ini memang tidak tau diri nak ! hahahaha...") dan bisa ditebak, beliau tentu tidak lulus test. Sampai pada akhirnya ayah saya berfikir "Saya tidak boleh main - main seperti ini terus. Saya harus jadi orang..." Setelah lama memikirkan jurusan yang tepat, akhirnya ayah mengambil keputusan "Saya mau masuk jurusan Hukum !"
Setelah mengikuti test kedua, ayah diterima di Fakultas Hukum UII-Yogyakarta. Dengan penuh harapan dan restu ayah merantau ke Yogyakarta. Dalam hal ini, kisah hidup saya dan ayah memiliki kesamaan. Kami sama - sama "berkelana" dari kampung ke kota.
Di Yogyakarta, ayah saya tinggal di kost - kostan. Di kost - kostan itulah dia bertemu dengan Heri, paman saya, dan berteman baik dengan dia. Perawakan ayah yang seram... eh, ralat. Maksud saya : tinggi, besar, putih dan rambut kribo gondrong membuat ia ditolak berbagai wanita (Ha... Ha... Ha... Ha...)
Sampai akhirnya is bertemu dengan seorang gadis cantik yang mirip sekali dengan saya. Namanya Nizariandha. Pepatah "Dunia selebar dau kelor" itu benar. Karena ternyata, gadis tersebut adalah adik dari temannya di kost - kostan, Heri. Setelah melakukan pendekatan, sampai akhirnya berpacaran, ayah saya dengan sok romantisnya berkata... "After two years together, spent many sad and happy moment, do you wanna marry with me ?" Ibu saya entah sedang dirasuki apa (ibu saya sendiri yang bilang !) lalu menjawab "YES"Ketika ibu saya bercerita kepada nenek saya bahwa ia ingin menikah, nenek saya sangat senang dan bersyukur. Namun, ucapan syukur "Alhamdulillah" berubah menjadi "Astagfirullah" ketika bertemu dengan ayah yang berperawakan gondrong kribo itu. Ayah saya lalu langsung mencukur habis rambut gondrongnya. Lucu sekali.
Setelah menikah dengan Ibu, untuk memenuhi kebutuhan harian, Ayah bekerja sambilan sebagai guide tour. Itulah mengapa ayah memiliki banyak sekali teman bule. Suatu ketika, ayah saya pulang kampung ke Sosa dan membawa teman - teman bulenya. Hal itu menjadi pusat perhatian tetangga - tetangga sekitar, karena baru kali itu kampung mereka kedatangan orang asing. Selama 3 hari rumah ayah penuh sesak dengan warga kampung yang ingin melihat para bule itu secara langsung. Dalam perjalanan pulang, banyak pedagang durian di pinggir jalan. Karena belum pernah makan durian, dan bentuk buahnya pun asing bagi mereka, para bule itu pun ingin mencoba. Akibatnya tidak disangka, bule - bule itu muntah - muntah sepanjang perjalanan. "No more Durian !" kata mereka
Setelah lulus dari UII dan mendapat gelar SH, ayah mendaftar kerja di departemen Koperasi dan diterima sebagai karywan. Setelah beberapa tahun bekerja, ayah dikirim ke Nordisk Lambo Skole, di Denmark untuk menjalani pendidikan selama 1 tahun. Pulang dari Denmark sekitar tahun 1990, ayah diutus menjadi kepala Koperasi di Aceh. Ayah dan Ibu lalu pindah ke Aceh. Disana, kehidupan mereka sejahtera dan berpenghasilan cukup.Tahun 1992, Ibu melahirkan seorang anak perempuan yang cantik dan sangat diharapkan. Itu saya, Nafitry Daulay. Anak itu tumbuh dengan manis seperti ibunya dan rambutnya keriting kribo seperti ayahnya.
Hidup kami boleh dibilang berpindah pindah. Dari Aceh, kami pindah ke Banda Aceh, lalu ke Takengon, lalu pindah lagi ke Medan sampai akhirnya kembali ke "negara asal" Sumatra Utara tepatnya di Padangsidempuan.
Umur ayah sekarang 52 tahun dan beliau sudah pensiun dari pekerjaannya. Namun yang saya kagumi adalah, beliau tidak pernah berhenti untuk menafkahi keluarganya. Ayah saya memang workaholic. Sesudah pensiun pun beliau masih bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta milik teman baiknya semasa SMA dulu. Terkadang, saya sering sebal sendiri apabila melihat ayah masih gila kerja. Namun, saya tahu itu semua demi saya. Demi kami.
Beliau sangat mendukung setiap kegiatan saya yang bersifat positif dan selalu mendukung cita - cita saya. Kata - katanya yang tidak akan pernah saya lupa seumur hidup "Soal biaya sekolah kamu tidak usah khawatir... Semua yang ayah punya nantinya akan habis. Untuk kamu. Semua untuk kamu... yang terpenting adalah, kamu bisa jadi orang hebat karena kamu satu - satunya harapan ayah..." Katanya dengan mata berkaca - kaca...
Terimakasih untuk segalanya ayah :')
Tidak ada komentar:
Posting Komentar