Kamis, 28 Maret 2013
21st Birthday :")
Sabtu, 21 April 2012
Abang
"Abis ini nonton The Raid yuk. Katanya waktu itu kepengen banget mau nonton ?" Gw melihat dia dengan tatapan yang-bener-aje-lu-bro.
Minggu, 30 Oktober 2011
I Need Time Machine !
Minggu, 21 Agustus 2011
Master Chef Vs Master Che(pot)
Jumat, 19 Agustus 2011
Saya punya keluarga yang... Errr...
LOVE you, from the deepest of my heart :)
Rabu, 17 Agustus 2011
What's so special in August ?
Selasa, 01 Februari 2011
Memorable Writings

Ayah saya, H. M. Ishak Daulay SH. MM Lahir di Sosa, 27 Agustus 1955. Anak kedua dari 7 bersaudara. Masa keclinya dihabiskan di tanah kelahirannya di Sosa, Sumatra Utara. Ayah dan ibunya bekerja sebagai penjual kain di pasar. Kakek adalah orang yang keras (sama seperti ayah !) dan itulah sebabnya, ayah dulu sering bertengkar dengan kakek.
Beliau sangat hobi berenang. Hampir seluruh sungai di Sosa sudah pernah "dijelajahinya". Dan itu menurun ke saya. Sewaktu kecil, saya juga hobi berenang sampai kulit saya hitam legam. Ayah juga hobi terjun bebas. Sewaktu di Sosa dulu, dia sering memanjat jembatan dan terjun bebas dari atas. Karena sungainya masih dalam, maka menurut ayah itu tidak berbahaya. Malah mengasyikkan. Untungnya, hobinya ayah yang satu itu tidak menurun ke saya !
Sewaktu SMP, beliau sangat nakal. Sering berkelahi dan bolos. Namun, walaupun nakal dan sering bolos, beliau termasuk pintar di kelasnya, apalagi dalam pelajaran Bahasa Inggris. beliau tidak seperti saya. Ia sangat percaya diri ketika berbicara Bahasa Inggris dengan orang - orang, bahkan ketika dia masih SMP dan kosakatanya masih amburadul. Hebat !
Memasuki Sekolah Menengah Atas, sifat ayah yang nakal dan sering bolos sudah ditinggalkannya. Ayah berubah menjadi orang yang pandai bergaul. Teman - temannya bukan hanya orang - orang di sekolah, tetapi juga tukang becak, tukang kain, anak pejabat, guru dan bahkan kepala sekolah. Menjalin persahabatan dengan guru di sekolah dan juga kepala sekolah membawa manfaat untuk ayah. Ayah sering lolos dari hukuman padahal ia sering terlambat. Kalau zaman sekarang masih bisa tidak ya ?
Bukan hanya itu, ketika siswa lain belajar mati - matian untuk bisa masuk ke jurusan yang diinginkannya, ayah saya malah bisa memilih dan masuk ke jurusan yang diinginkannya dengan mudah. Dan itu berkat dia akrab dengan kepala sekolah. Suatu hari, kepala sekolah bertanya kepadanya "Is, nanti mau masuk jurusan apa ? biar bapak urus" Ayah saya berfikir sejenak. Ia teringat, teman - temannya banyak yang ingin masuk IPA. "Pak, saya ingin masuk IPA !" Jawabnya mantap. Itulah kenapa, ketika saya dinyatakan masuk IPA, ayah saya bertanya "Kamu serius Fit ? tidak karena ikut - ikutan kan" dalam hati saya menjawab "Emangnya ayah !"Maka jadilah Ishak Daulay sebagai siswa IPA. Ya, lebih tepatnya "IPA IPAan"... Karena hanya ikut ikutan, tentu saja nilai - nilai ayah saya rata - rata dibawah standar, karena sebenarnya beliau kurang minat terhadap pelajaran IPA. Tapi untungnya ayah selalu naik kelas dan lulus.
Lulus SMA, ayah ikut test sebagai mahasiswa kedokteran (ketika menceritakan ini, ayah saya berkata sambil tertawa "Ayahmu ini memang tidak tau diri nak ! hahahaha...") dan bisa ditebak, beliau tentu tidak lulus test. Sampai pada akhirnya ayah saya berfikir "Saya tidak boleh main - main seperti ini terus. Saya harus jadi orang..." Setelah lama memikirkan jurusan yang tepat, akhirnya ayah mengambil keputusan "Saya mau masuk jurusan Hukum !"
Setelah mengikuti test kedua, ayah diterima di Fakultas Hukum UII-Yogyakarta. Dengan penuh harapan dan restu ayah merantau ke Yogyakarta. Dalam hal ini, kisah hidup saya dan ayah memiliki kesamaan. Kami sama - sama "berkelana" dari kampung ke kota.
Di Yogyakarta, ayah saya tinggal di kost - kostan. Di kost - kostan itulah dia bertemu dengan Heri, paman saya, dan berteman baik dengan dia. Perawakan ayah yang seram... eh, ralat. Maksud saya : tinggi, besar, putih dan rambut kribo gondrong membuat ia ditolak berbagai wanita (Ha... Ha... Ha... Ha...)
Sampai akhirnya is bertemu dengan seorang gadis cantik yang mirip sekali dengan saya. Namanya Nizariandha. Pepatah "Dunia selebar dau kelor" itu benar. Karena ternyata, gadis tersebut adalah adik dari temannya di kost - kostan, Heri. Setelah melakukan pendekatan, sampai akhirnya berpacaran, ayah saya dengan sok romantisnya berkata... "After two years together, spent many sad and happy moment, do you wanna marry with me ?" Ibu saya entah sedang dirasuki apa (ibu saya sendiri yang bilang !) lalu menjawab "YES"Ketika ibu saya bercerita kepada nenek saya bahwa ia ingin menikah, nenek saya sangat senang dan bersyukur. Namun, ucapan syukur "Alhamdulillah" berubah menjadi "Astagfirullah" ketika bertemu dengan ayah yang berperawakan gondrong kribo itu. Ayah saya lalu langsung mencukur habis rambut gondrongnya. Lucu sekali.
Setelah menikah dengan Ibu, untuk memenuhi kebutuhan harian, Ayah bekerja sambilan sebagai guide tour. Itulah mengapa ayah memiliki banyak sekali teman bule. Suatu ketika, ayah saya pulang kampung ke Sosa dan membawa teman - teman bulenya. Hal itu menjadi pusat perhatian tetangga - tetangga sekitar, karena baru kali itu kampung mereka kedatangan orang asing. Selama 3 hari rumah ayah penuh sesak dengan warga kampung yang ingin melihat para bule itu secara langsung. Dalam perjalanan pulang, banyak pedagang durian di pinggir jalan. Karena belum pernah makan durian, dan bentuk buahnya pun asing bagi mereka, para bule itu pun ingin mencoba. Akibatnya tidak disangka, bule - bule itu muntah - muntah sepanjang perjalanan. "No more Durian !" kata mereka
Setelah lulus dari UII dan mendapat gelar SH, ayah mendaftar kerja di departemen Koperasi dan diterima sebagai karywan. Setelah beberapa tahun bekerja, ayah dikirim ke Nordisk Lambo Skole, di Denmark untuk menjalani pendidikan selama 1 tahun. Pulang dari Denmark sekitar tahun 1990, ayah diutus menjadi kepala Koperasi di Aceh. Ayah dan Ibu lalu pindah ke Aceh. Disana, kehidupan mereka sejahtera dan berpenghasilan cukup.Tahun 1992, Ibu melahirkan seorang anak perempuan yang cantik dan sangat diharapkan. Itu saya, Nafitry Daulay. Anak itu tumbuh dengan manis seperti ibunya dan rambutnya keriting kribo seperti ayahnya.
Hidup kami boleh dibilang berpindah pindah. Dari Aceh, kami pindah ke Banda Aceh, lalu ke Takengon, lalu pindah lagi ke Medan sampai akhirnya kembali ke "negara asal" Sumatra Utara tepatnya di Padangsidempuan.
Umur ayah sekarang 52 tahun dan beliau sudah pensiun dari pekerjaannya. Namun yang saya kagumi adalah, beliau tidak pernah berhenti untuk menafkahi keluarganya. Ayah saya memang workaholic. Sesudah pensiun pun beliau masih bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta milik teman baiknya semasa SMA dulu. Terkadang, saya sering sebal sendiri apabila melihat ayah masih gila kerja. Namun, saya tahu itu semua demi saya. Demi kami.
Beliau sangat mendukung setiap kegiatan saya yang bersifat positif dan selalu mendukung cita - cita saya. Kata - katanya yang tidak akan pernah saya lupa seumur hidup "Soal biaya sekolah kamu tidak usah khawatir... Semua yang ayah punya nantinya akan habis. Untuk kamu. Semua untuk kamu... yang terpenting adalah, kamu bisa jadi orang hebat karena kamu satu - satunya harapan ayah..." Katanya dengan mata berkaca - kaca...
Terimakasih untuk segalanya ayah :')
Jumat, 12 Februari 2010
Suatu kehidupan bernama Hidup
Ternyata saya baru menyadari kalau postingan terakhir saya di blog ini adalah pas tahun baruan kemaren. Berarti sudah kira - kira 1 bulan deh saya gak nge posting. Ckckckkc... maaf yaa nak Mama telah menelantarkanmu selama ini... jangan salahkan bunda mengandung :P
Well, alasan saya tidak nge-posting dalam jangka waktu yang lama adalah tak lain dan tak bukan adalah karena yaa, gak ada hal yang spesial yang pengen gw ceritain. Hidup gw berjalan normal – normal saja akhir – akhir ini * terdengar tidak menyenangkan*. Kemaren UAS, libur 2 minggu (hanya, cuma 2 minggu sodara – sodara ! berbanding terbalik dengan univ lain yg liburnya ampe sebulan ato 2 bulan !), liburan juga gw gak gitu spesial, trus masuk kuliah lagi, trus nerima IP (yang cukup bikin gw tersenyum hehe, Alhamdulillah), terus nge G403L di kampus, trus balik ke rumah and so on, and so on... datar sekali bukan ? frankly, i hate being ’flat’ like this.
Ngomong – ngomong, gak kerasa banget mulai sekarang gw resmi menjadi mahasiswi Universitas Paramadina jurusan Hubungan Internasional semester dua. Semester dua !! cetet *pemer terlalu lebay*. Inilah hidup... waktu cepat sekali bergulir kawan... perasaan baru kemaren sore gw lulus – lulusan sambil makan Cireng depan sekolah sama anak – anak (disaat orang lain coret – coretan baju, gw dan teman – teman malah makan Cireng. Mengharukan)
Dan benar kata nyokap gw.. ”Hidup itu cuma sebentar. Singkat. Jadi, jangan biarkan waktu berjalan dengan sia – sia nak, gunakanlah dengan sebaik – baiknya”
Dulu sih waktu SMA setiap gw denger kata – kata ini gw sih mangut – mangut aja. Pretend that i understand what my mom’s saying. Yah, namanya juga masih SMA *ngeles*… tapi itu terbukti sekarang.
Gw sering nonton reality show semacam ‘Termehek - mehek’ gitu. Terserah sih orang mau bilang “Itu kan boongan, rekayasa, ada skenarionya” tapi gw gak peduli. Kenapa ? karena faktanya adalah setiap kali gw nonton itu, yang selalu muncul di benak gw adalah ”Liat nih, orang – orang yang menyia – nyiakan hidupnya dengan Narkoba... liat nih akibatnya kalo lo suka ngelawan orang tua... liat nih akibatnya kalo lo suka ngupil sembarangan (yang ini kaga ding)”.
Intinya, acara ini cukup bisa membuat gw sadar bahwa hidup bukan untuk disia – siakan. Bahwa hidup harus dimanfaatkan. Bahwa hidup itu...seperti Jet Coaster. Cepat, berliku – liku, dan... gabisa mundur (iyalah, kebayang gak lo kalo Jet Coaster bisa mundur ?). btw, kenapa kok mesti Jet Coaster ? karena kalo Istana Boneka ntar gak seru :P
Jadi, yang ingin gw sampaikan disini adalah : ”Jangan biarkan waktu berjalan dengan sia – sia. Gunakanlah dengan sebaik – baiknya. Karena hidup itu cuma sebentar. singkat”
(Like my mom’s said)
Dan... ya, mulai sekarang gw akan mencoba untuk mengesampingkan dulu hal – hal yang kurang penting dan memanfaatkan waktu hidup gw dengan melakukan hal – hal yang baik. Kuliah yang serius dan bikin orang tua tersenyum bangga. Gw bisa sekolah sampai ke tingkat ini aja gw sudah amat sangat bersyukur banget.
Bokap gw pontang panting cari uang buat biaya sekolah ditengah – tengah keadaan bahwa seharusnya dia itu udah pensiun, tapi tetap semangat bekerja buat menghidupi kami. Nyokap gw yang menjaga gw kalo sakit, yang selalu krang kring marah – marah di telepon kalo gw belum pulang dan gw terkadang malah ngatain dia cerewet padahal gw gak sadar kalau itu adalah salah satu bentuk perhatiannya yang secara gak langsung bilang : ”Mama amat sangat sayang sekali sama kamu nak, makanya mama cerewet kalau kamu pulang malam...”
Pernah gak sih berfikir kalau terkadang, marah itu salah satu bentuk perhatian orang tua sama kita ?
Orang tua marah – marah kalo kita pulang malem. Itu karena kita adalah segala – galanya bagi orang tua, mereka nggak ingin sesuatu yang buruk terjadi di jalan. Orang tua marah – marah kalau anaknya malas belajar. Itu karena orang tua pengen anaknya jadi pintar dan sukses di masa depan, hingga ketika pada saat mereka harus ”pergi”, mereka bisa ”pergi” dengan tenang karena anaknya sudah menjadi orang hebat yang berhasil. Orangtua selalu menganggap kita seperti anak kecil. itu karena mereka selalu ingin menjaga anaknya dengan sebaik – baiknya, sebelum si ’anak kecil’ itu menjadi besar, dinikahi oleh orang lain dan meninggalkan mereka pada akhirnya...
See ?! jadi mulai sekarang syukurilah itu semua... bikin orang tua bangga, dan manfaatkan waktu hidup kita yang singkat ini dengan sebaik – baiknya sebelum menyesal kemudian. Karena penyesalan selalu datang terlambat. Kalo yang datengnya duluan, itu napsu namanya
Selasa, 01 Desember 2009
A Day with Pasukan Behel !
Hello semuanyo ! ava kabaro ? baik – baikko ? bagusso... bagussoo…Oh ya, sebelumnya saya mau mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha bagi yang merayakan… minal aidin walfaidzin yaa
Sepertinya sudah lama sekali yaa saya tidak nge-Posting ? maklumlah, anak kuliahan ini lagi sibuk – sibuknya dengan tugas yang menumpuk, kaya lemak yang menumpuk di perut gw
Jadi ceritanya, kemaren si Vivin, temen gw yang dari Semarang pulang ke Jakarta sebentar dan ngajak gue beserta 2 ekor temen gw lainnya (baca : Vania dan Selli) nonton New Moon. Berhubung gw libur 3 hari dan cuma jadi bajingan kulkas di rumah, jadi gue dengan senang hati menerima ajakan si Vivin.
Rencananya, kita berangkat jam 1. Tapi akhirnya mundur setengah jam gara – gara si Selli ngaret. Huah ! padahal dia tuuh yang dari kemaren cuap – cuap nyuruh jangan ngaret *jari tengah*. Udah gitu datengnya ngagetin lagi tu anak. Gw hampir keselek Beng Beng ngeliat ada orang cungkring pake baju item tiba – tiba diri disamping pintu mobil sambil nyengir – nyengir najis.
Tapi ada yang lain di cengiran si Selli...
Ternyata dia sekarang pake kawat gigi, atau bahasa kerennya : Behel
Jiahh, tinggal gw nih yang nggak pake. Vania ama Vivin juga pake behel...
Tar dah gue pasang juga pake kawat beton biar kompakan jadi Pasukan Behel
Ga seperti biasa, jalanan hari itu amat sangat lenggang dan sepi, entah kemana semua orang... pada kabur semua kali yeh ?! takut dijadiin hewan kurban...
Anyway, satu hal tentang New Moon : BIKIN MUPENG !
Banyak adegan ciuman plus pria – pria Six Pack bertelanjang dada yang berseliweran. Bener – bener memanjakan mata gw yang akhir – akhir ini sepet
Astagfirulloohh… *ngusap iler
Kalo boleh protes, make up-nya Edward Cullen disitu ketebelan tuh. Pucetnya maksa banget. Perasaan di Twilight ga sepucat itu dah ? iya gak sihh ?
Tapi secara keseluruhan, lumayan bagus lah filmnya… daripada sinteron Cinta Fitri
Abis nonton, kita memutuskan untuk makan di Burger King Sarinah, yang untuk mencapai kesitunya membutuhkan waktu 2 kali lebih lama karena pake acara muter – muter dulu. Muter – muter karena kesasar ! payahh… yah, inilah derita anak – anak Jakarta yang gak gaoel.
Di BK, gue dengan biadab menghabiskan Beef Burger + Kentang goreng + Eskrim + Green Tea + Kentang Gorengnya Selli dan Vivin yang ga abis + Green Tea-nya Vania yang masih sisa
Waaahh, saya keren sekali yaa !
Akhir – akhir ini memang sepertinya napsu makan gw semakin ga terkendali... *santai saja Naf, nikmati makanan selagi enak, ntar tinggal sedot lemak. Huehuehue...
Karena waktu sudah menunjukkan pukul 8 malem, akhirnya kita memutuskan untuk pulang. Di jalan, gw yang udik banget kaya gaperna ngeliat kamera ngajak anak foto – foto. Tapi emang bener yah, perkataan itu adalah doa. Waktu itu si Selli sempet bilang : ”Foto – fotonya ntar aja Naf pas lampu merah. Biar Vania juga bisa ikut foto. Tar gaenak juga kan fotonya bawa maut, si Vania ikut foto – foto tiba – tiba nabrak aja !”
Dan bener, hal itu kejadian.
Mobilnya Vania nabrak motor.
MAMVUS DAH KITA !
Dan tau gak hal yang lebih parahnya lagi ? kan si Mas – masnya itu sempet ngeliatin gw gitu (sialnya gw yang duduk didepan) terus dia nunjuk – nunjuk gitu. Yang gw tangkep sih, si mas – mas itu nyuruh kita minggir. Istilahnya minta pertanggung jawaban gitu lah karena kita udah nabrak motornya dia.
Tapi, bukannya minggir si Vania malah tancep gas... KABUR !
Buset, gw berasa jadi buronan polisi. Dan sumpah yeh, gw deg – degan mampus ! apalagi pas gw liat si mas – mas yang nabrak tadi NGEJAR KITA !
Mati...
Tapi si Vania bener – bener gamau ngalah. Tu manusia odonks tetep aja cuek ngebut kaya ga ada apa - apa. Untungnya si mas – mas itu akhirnya ga ngikutin kita lagi. Entah itu karena dia kehilangan jejak kita atau karena udah capek ngejar...
Entahlah, hanya Tuhan yang tahu kawan !
Result dari tabrakan = kaca lampu depan mobil Vania pecah
Pulang – pulang, Vania pasti di Smek Down sama emaknya... sungguh malang nasibmu wahai kawaan ! Tabahkan hatimu, terimalah nasibmuu...
Tapi emang yah, selama gw nebeng sama Vania pasti ujungnya nabrak dah. Pernah waktu itu nabrak angkot, terus pernah juga hampir nabrak APV
Mungkin si Vania butuh supir nih... ada yang berminat ?
Tapi intinya, saya senang sekali deh, jalan – jalan dengan Pasukan Behel. Lain kali jalan – jalan lagi yuuk ! tapi gapake nabrak tentunya, hehe...
See you soon : Selli, Vivin & Vania
Im gonna miss youu





