Senin, 06 Agustus 2012

Inspirasi dari sebuah Perahu Kertas

“Kugy suka kirim surat ke Dewa Neptunus !”
Alis Keenan seketika bertemu. “Gimana caranya ?”
“Gampang. Dihanyutkan saja di segala aliran air, karena semua aliran air bermuara ke laut.”
“Terus, tujuannya kirim surat apa ?”
“Teman-teman...” Kugy menahan nafas, suaranya bergetar. “...sekarang sudah saatnya kalian tahu, bahwa gua ini sebetulnya... anak buah Neptunus yang dikirim ke Bumi untuk jadi mata-mata...”

-Perahu Kertas, Dewi Lestari-

Sejak pertama kali ‘bertemu’ Kugy di halaman-halaman awal, gw berharap orang yang kayak gini beneran ada. Beneran hidup, dan mampir di kehidupan gw barang sebentar. Kugy Karmachameleon, si manusia langka satu-satunya yang tersisa di jagad raya. Unik, lucu, aneh, nyablak, dan hobi berkhayal sesuka hati hingga sebagian besar waktunya dihabiskan dengan menciptakan cerita-cerita dongeng anak-anak yang membuat ia sering lupa akan satu hal : realita.

This is one of my favorite book. Sampai saat ini, Perahu Kertas sudah gw baca full 3 kali, dan berkali-kali hanya di part-part favorit gw. Lucu ya, gimana akhirnya gw bisa jadi fans berat Kugy dan kawan-kawan, padahal dulu novel ini sempat tergeletak begitu saja di rak buku entah berapa bulan, dengan sampul plastik masih terpasang. Don’t judge a book by it’s cover itu bener. Buku ini tante gw yang beli, sebagai... uhm, nggak tau juga sih kenapa tiba-tiba doi beliin gw buku. Sekilas gw memperhatikan covernya, membaca sedikit sinopsisnya, dan langsung menge-judge kalau ini cuma cerita romance menye-menye. Gw, waktu itu bener-bener lagi males banget untuk jadi saksi mata kisah-kisah percintaan karena gue lagi patah hati karena gw lagi nggak mood. Jadi, novel ini benar-benar gw anggurin sampai akhirnya gw penasaran sendiri.

Sejak pertama kali gw ‘melahap habis’ Perahu Kertas, gw langsung mendeklarasikan diri sebagai fans baru Dewi Lestari. Gw suka gaya penulisannya, isitilah-istilah lucu yang dipakai, dan bagaimana cara dia berusaha untuk menggambarkan tokoh-tokohnya dengan sempurna : Kugy, Keenan, Eko, Noni, Ojos, Wanda, Remi, Luhde, Poyan, Pilik, hingga Mas Itok si tokoh ‘figuran’, semuanya punya wujud yang jelas di fikiran gw dan tidak pernah berubah, walaupun akhirnya belakangan ini gw tau kalau Kugy adalah Maudy Ayundya di versi film-nya (yep, novel ini akan segera di rilis film nya. Semoga tidak mengecewakan).

In the end
, gw mau ngasih sepuluh jempol untuk si penulis yang berhasil menghipnotis gw dalam 442 halaman cerita kehidupan Kugy dengan karakternya yang unik. Buku ini nggak ngebosenin walaupun alurnya panjang, dan nggak ngebingungin walaupun banyak tokoh-tokoh baru yang tiba-tiba muncul. Menurut gw buku ini pas. Manis, tapi nggak bikin diabetes. Nggak menye-menye, tapi bisa bikin galau, dan simple, tapi bisa bikin gw... berfikir, tentang mimpi. Tentang perdebatan dalam diri untuk jadi apa-kata-gue atau apa-kata-dunia. Tentang bagaimana orang-orang berganti, datang dan pergi sesuka hati tanpa kita tau kapan, dimana, dan selanjutnya bagaimana. Sama seperti surat perahu kertas Kugy, rasanya gw pun ingin menuliskan hal yang sama untuk Neptunus :

“Neptunus, semua nelayan yang sedang mencari arah akan diberi petunjuk oleh bintang di langit. Semoga dia menemukan bintangnya, dan kembali menemukan jalannya pulang...”


Ya. Semoga ia kembali menemukan jalannya pulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar